Me…

Wanita Itu…

Wanita itu… wanita yang tidak berdaya
terpedaya dalam ketidakberanian dan ketidak mampuan…
Hidup dalam penjara kebodohan… ingin berteriak tapi tidak ada suara,
Jiwa terikat batin tersiksa…
Hidup adalah pilihan, tapi bagaimana kalau pilihan itu cuma satu?

Menjalani hidup dengan cinta yang telah terbagi
Tapi tak bisa berbuat
Keberanian seolah-olah terbenam oleh ketakutan
Kekuatan seolah2 ditelan oleh kecemasan

(ntar ah… belum dapat ide lagi… mau bersemedi dulu)

Coba Posting aja

hmmm…. udah lama juga nggak memposting, pengen nulis lagi seh tapi belum konsentrasi…

Jangan Pernah berhenti berharap

Aku tidak inngin mengatakan kalau hidupku kurang beruntung, apalagi sampai mengatakan betapa malangnya nasibku. Aku tidak mau menjadi hambat yang tidak bersyukur, bagaimanapun kesenangan lebih banyak kunikmati dari pada kesulitan. Begitu banyak kesempatan-kesempatan yang ku peroleh yang orang lain mungkin tidak mendapatkannya., walau harus melewati ujian-ujian hidup tapi tetap saja semua itu karunia dari Allah. jadi bagaimana aku mengatakan kalau aku orang yang malang.
Begitupun sekarang, saat ujian dan cobaan hidup datang menghampiriku, begitu banyak kejutan-kejutan kecil yang memberi semangat bagiku,

Kupersembahkan ketulusan hati

Dalam diam yang meresahkan. Kumelongo jendela kehidupan. Ada sejuta makna yang belum terungkap. Dalam satu rasa dan asa. Entah dengan bahasa apa kuberucap. Sedang kebingungan telah membisukan. Izinkan aku mengecup rasa Sebelum tangis menanti diujung perbatasan. Agar perpisahan tidak menyisakan sesal.

Jangan kau pernah mengira  aku telah merelakan langkahmu bersama perubahan sikapdalam setiap tatap dan keputusanmu.  Ini hanyalah makna karena aku lebih mendamba senyummu daripada setitik embun untukku. Walau pada akhirnya aku harus berlabih di dermaga kehausan akan makna, rasa, dan segalanya.

Kubiarkan orang bergumam, “KENAPA DIA MENINGGALKANMU?” sebab mereka belum paham kalau aku lebih memihak perasaanmu ketimbang membela gejolak rasa dalam dadaku. Aku sadar pun aku tahu kalau ini adalah permainan PENA SANG KUASA dalam menguji kemantapan makna keyakinan.

Walau kau telah melambaikan tangan terakhir sebagai perpisahan, tetapi aku menganggapnya sebagai isyarat jumpa dan sua di kemudian hari. Entahlah mungkin demi merayu perasaanku yang sedang kalut atau memang penantian akan berakhir dengan tawa atau justru khayalan akan berujung duka.

Kuucapkan selamat atas jalan barumu, kuselalu memohon agar kau tetap dalam bahagia dan sentosa tanpa menoleh kebelakang, apa yang sedang kualami.

by Ahmad

Hati Yang Kau Sakiti

Jangan pernah katakan bahwa cintamu hanyalah untukku
Karena kini kau telah membaginya
Maafkan jika memang kini harus kutinggalkan dirimu
Karena hatiku slalu kau lukai
Tak ada lagi yang bisa ku lakukan tanpamu
Ku hanya bisa mengatakan apa yg kurasa

Ku menangis… membayangkan
Betapa kejamnya dirimu atas diriku
Kau duakan cinta ini
Kau pergi bersamanya

Ku menangis… melepaskan
Kepergian dirimu dari sisi hidupku
Harus slalu kau tahu
Akulah hati yg telah disakiti

Jonggol July 2 2009

By Rossa…

Apalah Artinya…

Apalah artinya manusia kalau dia tidak beragama. Hidup seperti hewan. Hanya makan, minum dan membiak. Tidak ada sistem hidup. Hidup semata-mata karena nafsu dan hendak bersenang-senang serta tidak herhenti-henti membuat kerusakan di muka bumi. Beraja di mata dan bersultan di hati. Menjadi penghalang kepada kebaikan dan kebenaran. Menganggap dunia ini sebagai syurga dan yakin bila mati nanti, akan rapuh dan hancur seperti kayu mati. Habis riwayat, tidak ada cerita apa apa lagi.

Apalah artinya agama kalau bukan agama fitrah. Kalau bukan agama yang membawa hak, kebenaran, keselamatan dan kasih sayang. Kalau bukanlah agama yang diredhai oleh Tuhan. Kalau bukan agama Islam.

Apalah artinya beragama Islam kalau tidak ada hidayah. Tanpa hidayah kita tidak akan serius dalarn beragama. Tidak serius dengan Tuhan. Hanya Islam ikut ikutan, Islam keturunan, Islam taqlid, Islam nenek moyang.

Apalah artinya hidayah kalau tidak mempunyai ilmu. Tidak kenal Tuhan. Tidak tahu halal dan haram. Tidak kenal penyakit-penyakit hati. Tidak ada ilmu artinya tidak tahu cara bertindak. Tidak tahu cara beragama. Tidak tahu bersyariat. Menjadi kaku dan beku. Ada agama tapi tidak mampu berbuat apa-apa.

Apalah artinya ilmu kalau tidak difahami. Ilmu hanya di akal, tidak dihati.

Apalah artinya faham kalau ilmu tidak diyakini. Ilmu itu tidak akan mencengkeram hati. Tidak akan mendarah mendaging.

Apalah artinya yakin kalau ilmu tidak diamalkan. Ilmu hanya tinggal ilmu. Samalah hakikatnya dengan orang yang tidak punyai ilmu. Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmu adalah seperti pohon yang tidak berbuah. Tidak menghasilkan apa-apa.

Apalah artinya amalan kalau tidak ada mujahadah. Tidak dapat melawan tarikan dunia dan tipuan syaitan. Tidak dapat melawan kehendak nafsu. Tanpa Mujahadah, sampai kapan pun hati tidak akan menjadi baik dan nafsu tidak akan terdidik.

Apalah artinya mujahadah kalau tidak istiqomah. Sebentar dibuat sebentar ditinggal. Bila suka, dibuat, bila tak suka, ditinggal. Amalan bermusim-­musim. Istiqomah Itu ialah karamah. Kalau amalan sudah istiqomah, barulah akan timbul berbagai kebaikan dan keajaiban dari amalan dan ibadah. Baru akan datang kasih sayang Tuhan. Yang penting bukan banyak tetapi istiqomah. Kalau istiqomah, air yang menetes pun dapat melekukkan batu. Istiqomah adalah tanda ikhlas.

Apalah artinya istiqomah kalau amalan itu tidak ada batinnya, tidak dihayati dau tidak dijiwai. Tidak ada roh. Tanpa membawa hati. Tanpa rasa. Tuhan tidak ada dalam ibadah. Ibarat buah, hanya ada kulit, tidak ada isinya. Tidak ada indahnya. Tidak ada manisnya. Hanya jasad yang terlibat. Hanya jasad yang taat. Hanya jasad yang beribadat. Walhal Tuhan tidak memandang pada jasad. Tuhan melihat pada hati. Selagi hati tidak ada dalam ibadah, selagi itulah kita belum benar-benar beribadah. Yang menyembah dan mengabdi diri pada Tuhan itu ialah hati atau roh. Jasad hanyalah pengiring. Betapa terkelirunya kita meninggalkan pengiring menyembah Tuhan dan kita pergi entah ke mana. Pengiring tidak tahu apa-apa. Pengiring tidak faham apa-apa.

Hanya apabila roh sudah beperanan, apabila roh dan hati sudah kenal, cinta, takut dengan Tuhan dan apabila roh sudah terlibat dalam pengabdian kepada Tuhan, barulah akan terbina insan. Barulah akan terasa didikan dan tarbiah dari Tuhan. Barulah akan timbul hasil dan buah ibadah iaitu akhlak yang luhur. Akhlak dengan Tuhan, akhlak sesama manusia dan akhlak terhadap sekalian makhluk Tuhan.

Sebahagian akhlak ialah ulfah, iaitu kasih sayang. Manusia tidak akan mampu berkasih sayang selagi manusia belum merasakan Cinta kepada Tuhan.

Tidakkah dapat kita rasakan bahwa seluruh alam ini berputar hanya karena kasih sayang Tuhan. Tuhan tidak terpaksa. Tuhan tidak mengambil untung. Tuhan tidak memiliki kepentingan apa pun. Malahan Tuhan tidak perlu kepada kita dan kepada seluruh alam ini. Namun Tuhan tetap mencurahkan kepada kita segala rahmat dan nikmatnya tanpa henti-henti. Apakah motifnya kalau tidak semata-mata karena cinta dan kasih sayang­Nya kepada kita.

Bila sudah dihasilkan akhlak dan ulfah (kasih sayang), barulah segala-galanya akan mempunyai arti. Beragama mempunyai arti. Hidayah mempunyai arti. Ilmu mempunyai arti. Kefahaman mempunyai arti. Keyakinan mempunyai arti. Amalan Mempunyai arti. Mujahadah mempunyai arti dan istiqomah pun mempunyai arti. Malah bila telah wujud akhlak dan kasih sayang, barulah seluruh kehidupan ini mempunyai arti.

Posted by Setetes Embun